Selamat Datang Di Website Resmi Aswaja NU Center MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Lailatul Ijtima' NU Ranting Ngelo, TERBONGKARNYA KEBOHONGAN UST SALAFY WAHABI ATAS TUDUHAN TAHLIL BERASAL DARI HINDU

Penjelasan tentang Tasyabbuh yang Benar

Penjelasan tentang Tasyabbuh yang Benar


Muslimedianews.com ~ Sebagian orang yang baru belajar agama,
menyalahkan umat Islam yang menjalankan beberapa tradisi Islami
Nusantara, dengan alasan tradisi tersebut menyerupai atau tasyabbuh dengan orang-orang Hindu, seperti selamatan Tahlilan 7 hari, selamatan Tingkepan kehamilan dan lain sebagainya. Orang tersebut tidak tahu, bahwa tasyabbuh yang diharamkan dalam agama itu syaratnya ada dua;
Pertama, perbuatan tersebut harus perbuatan tercela dalam kacamata agama Kedua, orang yang melakukan memang hanya bertujuan tasyabbuh Apabila kedua syarat tersebut, tidak terpenuhi, maka tasyabbuh nya tidak diharamkan dalam agama kita. Al-Imam Ibnu Nujaim al-Hanafi rahimahullaah berkata:
ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺄﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻭﺇﻧﺎ ﻧﺄﻛﻞ ﻭﻧﺸﺮﺏ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﻭﺇﻧﻤﺎ
ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ
Ketahuilah, bahwa menyerupai Ahlul-Kitab (Yahudi-Nasrani) tidak
dimakruhkan dalam setiap macam tasyabbuh. Kita makan dan minum seperti mereka lakukan. Tasyabbuh yang haram itu, dalam perbuatan yang memang tercela, dan perbuatan yang memang bertujuan tasyabbuh dengan mereka. (Al-Imam Ibnu Nujaim al-Hanbali, al-Bahr al-Raiq Syarh Kanz al-Daqaiq, juz 2 hlm 11).
Orang yang Tahlilan, tidak ada yang bertujuan tasyabbuh dengan Hindu. Lagi pula, orang Hindu dijamin tidak ada yang Tahlilan. Demikian pula tradisi-tradisi yang lain.
Di kalangan ulama Wahabi, banyak juga yang menyandang gelar doctor,
magister dan lain-lain. Gelar-gelar tersebut asalnya dari Barat, Nasrani-
Yahudi. Tapi berhubung, itu adalah gelar keilmuan yang tidak tercela, dan memang tidak dimaksudkan tasyabbuh dengan mereka, maka hukumnya tidak makruh dan tidak haram. Bukankah begitu wahai kaum?
Apakah dua syarat di atas ada dalilnya? Jelas ada. Di mana? Dalam kitab-kitab hadits.
Oleh : Ustadz Muhammad Idrus Ramli

Share:

Kebangkitan Wakaf, Keberkahan Berlipat di Hari Kemenangan

 

Kyai Badrun Ajak Jama’ah Musholla Baitul Makmur Jadikan Wakaf sebagai Warisan Keimanan yang Produktif

Ngelo, Margomulyo – Kamis, 29 Mei 2025
Bertempat di Musholla Baitul Makmur, Dusun Tolu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, sebuah kajian penuh makna digelar pada Kamis malam, 29 Mei 2025, pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Dengan mengusung tema “Kebangkitan Wakaf, Keberkahan Berlipat di Hari Kemenangan”, kegiatan ini menghadirkan Kyai Badrun sebagai pemateri utama dalam suasana yang hangat, khusyuk, dan penuh semangat pasca-Ramadan.

Dihadiri oleh jama’ah Musholla Baitul Makmur dari berbagai kalangan usia, suasana kajian semakin hidup saat Kyai Badrun menyampaikan pentingnya menjadikan wakaf sebagai bentuk lanjutan amal ibadah setelah Ramadan, bukan sekadar simbol sedekah atau harta diam.

Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun yang tampil bersemangat dengan seragam organisasi keagamaan dan atribut nasionalis di dada, menegaskan bahwa wakaf adalah bentuk rasa syukur atas kemenangan spiritual selama Ramadan dan menjadi bentuk investasi sosial jangka panjang. “Kita telah menaklukkan hawa nafsu selama sebulan penuh. Maka kini saatnya menaklukkan ego sosial dengan berwakaf, karena keberkahan itu harus terus mengalir, tidak boleh terputus saat gema takbir berhenti,” ujarnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya wakaf produktif sebagai sarana membangun pendidikan, ekonomi umat, hingga fasilitas layanan sosial. Melalui kajian ini, para jama’ah diajak bukan hanya memahami, tetapi juga mulai merancang langkah konkret untuk menghidupkan wakaf sebagai gerakan kolektif umat Islam, terutama di lingkungan Musholla Baitul Makmur.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: "Kebangkitan Wakaf, Keberkahan Berlipat di Hari Kemenangan"

Pemateri: Kiyai Badrun
Hari, Tanggal: Kamis, 29 Mei 2025
Waktu: 20.00–23.00 WIB
Tempat: Musholla Baitul Makmur, Dusun Tolu, Desa Ngelo, Kec. Margomulyo


1. Pendahuluan

  • Idul Fitri adalah simbol kemenangan spiritual, namun jangan berhenti di situ.

  • Keberkahan Ramadan harus diteruskan dalam bentuk amal sosial berkelanjutan.

  • Salah satunya: menghidupkan kembali wakaf sebagai ladang amal tak terputus.


2. Wakaf: Manifestasi Syukur Pasca-Ramadan

  • Ramadan mengajarkan kita kepedulian dan kedekatan kepada Allah.

  • Wakaf menjadi sarana melanjutkan rasa syukur dengan berbagi yang berkelanjutan.

  • QS. Al-Hajj: 77 “…berbuat baiklah agar kamu beruntung.”


3. Wakaf Sebagai Pilar Keberkahan Umat

  • Wakaf bukan sekadar ibadah harta, tapi penggerak ekonomi dan sosial.

  • Sejarah mencatat: wakaf membangun madrasah, rumah sakit, pasar, dan perpustakaan.

  • Wakaf produktif: bisa berupa lahan pertanian, toko, alat produksi, bahkan platform digital.


4. Langkah Konkret Membangkitkan Wakaf

  • Bentuk tim nadzir musholla yang amanah dan transparan.

  • Data aset-aset potensial untuk diwakafkan (tanah, dana, skill).

  • Edukasi dan penggalangan partisipasi jama’ah untuk mewakafkan sebagian harta, waktu, bahkan tenaga.


5. Penutup: Seruan Perubahan

“Jika Ramadan melahirkan pribadi takwa, maka wakaf adalah bukti sosial dari ketakwaan itu.”
Wakaf bukan sekadar amal untuk dunia, tapi warisan abadi yang terus mengalir pahalanya.

Share:

DALIL QIYAS DALAM IBADAH

Oleh: Muhammad Idrus Ramli

WAHABI: “Mengapa Anda banyak melakukan ibadah hasil teori Qiyas?”

SUNNI: “Memangnya kenapa, kalau sebagian ibadah yang kami lakukan berdasarkan dalil Qiyas?”

WAHABI: “Ya jelas sesat, karena dalam kaedah fiqih dijelaskan:

Share: